RANGKUMAN TEKS EKSPOSISI : Pengertian, Struktur, Ciri Kebahasaan, Jenis dan Tujuan serta Contohnya

Teks Eksposisi adalah materi pelajaran yang akan kita bahas kali ini, adapun disini kita akan memjelaskan mengenai pengertian teks eksposisi, struktur teks eksposisi, ciri ciri kebahasaan teks eksposisi, jenis jenis teks eksposisi, tujuan dan contoh teks eksposisi. semoga dapat membantu.

Teks Eksposisi

pengertian teks eksposisi, struktur teks eksposisi, ciri ciri kebahasaan teks eksposisi, jenis jenis teks eksposisi, tujuan dan contoh teks eksposisi

A. Pengertian Teks Eksposisi

Teks eksposisi adalah teks yang berfungsi untuk mengungkapkan gagasan, mengusulkan  atau sesuatu berdasarkan argumentasi yang kuat.
Teks ini hanya memiliki satu argumentasi. Tidak seperti teks negosiasi yang berisi dua argumentasi.

B. Struktur Teks Eksposisi

Struktur teks eksposisi adalah sebagai berikut:
  1. Tesis atau pembukaan
  2. Argumentasi (Isi)
  3. Penegasan ulang

C. Ciri Kebahasaan Teks Eksposisi

Dalam jenis Teks, selalu memiliki ciri kebahasaan, berikut adalah ciri kebahasaan teks eksposisi :
  1. Menggunakan kata ganti (pronomina)
  2. Berdasarkan fakta
  3. Bersifat informatif atau memberikan informasi pada pembca
  4. Berupa pendapat atau Opini

D. Jenis jenis Teks Eksposisi

Jenis jenis teks eksposisi antara lain adalah sebagai berikut:
  1. eksposisi definisi
  2. eksposisi proses
  3. eksposisi klasifikasi
  4. eksposisi ilustrasi
  5. eksposisi laporan
  6. eksposisi perbandingan

E. Tujuan Teks Eksposisi

Tujuan teks eksposisi adalah untuk menjelaskan infomasi tertentu yang bersifat informatif sehingga pengetahuan pembaca sendiri bertambah.

F. Contoh Teks Eksposisi

Contoh contoh teks eksposisi
Mangga dan Agroklimat
Mangga adalah tanaman buah dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada agroklimat. Ada tanaman buah yang tidak begitu tergantung pada faktor agroklimat, misalnya nangka dan alpukat. Ada juga yang tingkat ketergantungannya pada agroklimat sangat tinggi, misalnya apel. Hampir tak ada tanaman yang dapat seratus persen bebas dari faktor agroklimat, kecuali tanaman itu dibudidayakan dalam green house yang tersolir dari udara luar dan lengkap dengan pengatur suhu dan kelembapan. Mangga memang tanaman buah tropis, tetapi dia justru tidak menyukai kelembapan dan curah hujan yang tinggi. Itulah sebabnya buah itu kemudian dibudidayakan di kawasan guru seperti Meksiko, Mesir, dan Israel, atau di kawasan subtropis seperti Australia dan Taiwan. Pokoknya, semakin kering dan panas suatu kawasan, tanaman mangga semakin menyukainya. Di Indonesia pun mangga hanya dapat tumbuh baik di dataran rendah dengan curah hujan sedikit seperti Indramayu, Pasuruan, dan Probolinggo 
Meskipun menyukai kawasan kering dengan udara panas, mangga tetap memerlukan banyak air. Unsur utama untuk membentuk buah memang air, udara (CO2) dan unsur hara. Dari tiga unsur tersebut, air diperlukan tanaman mangga dalam jumlah paling banyak. Oleh sebab itu, meskipun udara di Pasuruan dan Probolinggo cukup panas dan kering, air tanahnya cukup dangkal sehingga cocok untuk tanaman mangga. Di luar Jawa, kawasan yang agroklimatnya seperti itu antara lain di daerah lembah palu. 


Kemacetan dan Masa Depan Kota


By: Novi Ermawati

Tesis :
Transportasi didefinisikan oleh para ahli sebagai kebutuhan turunan dari berbagai kegiatan ekonomi maupun sosial (lihat misalnya Morlock, 1985). Tipe kegiatan sosial ekonomi yang berbeda akan memiliki dampak kegiatan transportasi yang berbeda pula.

Argumentasi :
Kegiatan transportasi harian relatif menimbulkan pergerakan yang bersifat berulang, misalnya yang terjadi pada para pekerja dan mereka yang menempuh pendidikan di sekolah. Di Yogyakarta, kota kita tercinta ini, kemacetan terjadi setiap hari pada titik-titik yang menjadi jalur pergerakan para pekerja dan siswa dari tempat tinggal menuju lokasi kerja dan sekolah.

Kemacetan yang berulang pada jangka lebih panjang cenderung terjadi pada musim liburan maupun lebaran. Pada tahap kedatangan dan kepulangan, kemacetan parah akan terjadi pada jalan-jalan arah luar kota (misalnya Jalan Magelang, Jalan Solo, Jalan Palagan dan Jalan Wates). Pada rentang di antara masa tersebut, kemacetan dapat dirasakan di pusat kota sebagai lokasi menginap dan tujuan wisata (seperti Malioboro, Prawirotaman), serta jalan-jalan menuju objek wisata, seperti Jalan Parangtritis.

Pengegasan Ulang :
Kemacetan harian yang dominan ditimbulkan oleh aktivitas masyarakat dalam lingkup internal. Kemacetan yang berulang setiap hari merupakan ekses dari pola tempat tinggal, bekerja dan bersekolah. Upaya mendekatkan lokasi tempat tinggal dengan lokasi kegiatan merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan. Bentuknya dapat berupa pemberian insentif tempat tinggal berupa rumah susun sewa maupun milik yang cukup nyaman untuk beraktivitas. Selama ini sepertinya belum ada upaya pengaturan pola berkegiatan yang sistematis.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Klik (X) kali tuk menutup
Dukung kami dengan ngelike fanspage ×